Basa-Basi Yang Semoga Saja Tak Terlalu Basi

Selamat datang di Ekuilibrium Dua Kutub, blog keempat Alfa Lubis. Blog ini merupakan kumpulan tulisan dari apa yang kualami, kurasakan, atau hal-hal yang menarikku untuk menuangkannya dalam sebuah tulisan. Ini blog, tidak kurang tidak lebih. Jika Anda tertarik untuk berkomentar atau merespon, aku akan sangat menghargai jika Anda hadir dengan identitas yang jelas bukan cuma anonim. Terima kasih telah meluangkan waktu Anda membaca blog ini, semoga Anda ingat jalan pulang.

Monday, October 8, 2012

322. PEMIMPIN ITU DILAHIRKAN, BUKAN DICIPTAKAN!



Aku menyadari satu hal kini. Pemimpin itu dilahirkan, bukan diciptakan. Acapkali opini bahwa pemimpin adalah hasil ciptaan sistem mengemuka, semata demi propaganda pendukung sistem agar kian masif. Namun dari apa yang kulihat sejauh ini, benar-benar pemimpin itu dilahirkan, tuah badan, bukan akibat dibentuk dan dididik oleh sistem.

Aku sering bertemu orang-orang yang secara sistemik, secara titel, secara teknis, merupakan seorang pemimpin. Benar, bahwa pemimpin juga manusia sehingga tak luput dari kesalahan, namun dalam konteks kepemimpinan, selayaknyalah seorang pemimpin adalah ia yang memiliki karakter kepemimpinan yang tak mendahulukan diri pribadi di atas kemaslahatan orang-orang yang dipimpinnya. Pemimpin adalah ia yang datang paling cepat, pulang paling lama. Mendahulukan kepentingan kaumnya. Tidak egois. Mampu memimpin dan mau pula dipimpin. Dan berbagai karakter lainnya yang selayaknyalah lebih membikin pusing daripada bangga. Karenanyalah, dalam sejarah agamaku, para sahabat Rasul senantiasa stres, ketakutan, menangis, apabila diamanahi kepercayaan menjadi pemimpin. Bukan malah bangga atau senang tak alang kepalang. Sebab sepenuhnya mereka menginsyafi bahwa pemimpin itu lebih banyak bebannya daripada fasilitasnya, lebih banyak kerjanya daripada santainya, hingga tak sepantasnya menjadikan seorang pemimpin berpongah diri, membusung dada demi sebuah privilese yang sebenarnya semu. Sebegitu luhurnya kualitas para sahabat Rasul di zaman dahulu hingga ketika mereka akhirnya menerima amanah kepemimpinan tersebut, mulai ujung rambut sampai ujung kuku kaki, mulai darah sampai tahi, semuanya menerima, menjaga, dan mengamalkan amanah kepemimpinan itu sepenuhnya tanpa pengkhianatan sungguhpun harus nyawa jadi taruhan.

Celakanya, kebanyakan pemimpin yang kutemui menjadikan kepemimpinannya tak lebih titel belaka, malah lebih parah dari itu, jadikan kepemimpinannya sebagai senjata baru untuk menyenang dan menguntungkan diri sendiri. Benar-benar sebuah pagelaran udik yang jauh dari elegan, ketika alas kaki jadi raja. Orang susah yang naik kelas, tanpa itikad baik untuk memperbaiki kualitas pribadi. Kepemimpinan tidaklah menutup pintu kemungkinan bagi mereka yang awalnya berasal dari kelas rendah untuk memperbaiki diri, naik kelas menjadi lebih baik, menjadi seorang pemimpin. Hanya saja kebanyakan yang kulihat, orang-orang yang awalnya susah dan bernasib kurang beruntung, ketika naik menjadi seorang pemimpin seolah digila kekuasaan dan hak, alih-alih berpeluh-peluh untuk melaksanakan kewajiban dan tanggung jawabnya yang jauh dari ringan.

Demi Tuhan, sepenuhnya aku percaya pemimpin itu dilahirkan, bukan diciptakan. Kepemimpinan itu mengalir di darah, darah pemimpin, bukan hasil bentukan dan didikan sistem. Fakta menunjukkan bahwa banyak kasus terjadi saat seorang bertitel pemimpin harus dijatuhi sanksi akibat kelakuan yang menyalah, padahal idealnya seorang pemimpin--bukan tak boleh--namun sebisanya meminimalisir kesalahan akibat beratnya beban yang tersandang di pundak. Jangan sedikit-sedikit mencari apologi dengan dalih manusiawi, "manusia pasti bersalah" atau semacamnya, karena menurutku, kalau sudah pemimpin, salahnya tinggal kesalahan-kesalahan kecil saja, bukan kesalahan fatal. Itu terjadi karena pemimpin panjang akalnya dan tegas tindakannya, bukan malah pendek pikiran lantas cuci tangan dan cari kambing hitam atas kesalahannya.

Di PT MSS sendiri, tempatku bernaung saat ini, kepemimpinan adalah mutlak. Dalam artian, sistem bisnis jaringan yang cabang-bercabang melahirkan banyak pemimpin baru. Di PT MSS, sebegitu Anda punya jaringan yang harus Anda bina, maka Anda sudah layak menjadi seorang pemimpin, sekurangnya pemimpin jaringan Anda sendiri terlepas besar-kecilnya jaringan. Tak ayal, bisnis jaringan pada umumnya, dan PT MSS pada khususnya, sebenarnya merupakan lumbung para pemimpin yang seharusnya memiliki kualitas tinggi akibat setiap waktu membina dan membimbing jaringan di bawahnya demi kemaslahatan bersama. Sayangnya, sebagaimana yang kukatakan di awal, banyak insan yang bertitel pemimpin namun darahnya tak pernah menjadi darah pemimpin. Kalap akibat gelar yang disandang hingga alih-alih memajukan jaringan, malah berusaha mengenyang lambung sendiri. Memperkuda jaringan agar bekerja untuknya alih-alih memeras keringat lebih banyak demi para anggotanya.  Ironisnya, sistem yang pada prinsipnya sudah bagus tetap tak mampu membina dan mengubah karakter mereka yang ternyata tetap sedangkal ketika mereka masih berada di bawah. Sistem yang telah dirancang sedemikian rupa agar mampu menciptakan pemimpin, tetap saja tak mampu membentuk karakter kepemimpinan mereka, tetap saja karakter busuk yang tampil. Dan yang menyedihkan, mereka telah lama berkecimpung di dalam sistem sehingga seharusnya adalah yang lebih paham dan lebih meresapi sistem, alih-alih mengkhianatinya demi ambisi sesaat yang tiada terkendali. Maka tak terhindarkan ketika akhirnya banyak pemimpin yang disingkirkan dari sistem karena menyalahi sistem tempat ia bernaung di dalamnya. Benar-benar kualitas pecundang saat para pemimpin kelas cendol basi ini bukannya membesarkan rumah tempat ia tinggal malahan diam-diam merusak dari dalam, mengotori, merusak, bahkan meracuni insan-insan lain di dalamnya. Lebih dari layak mereka disingkirkan, demi pengkhianatan mereka yang terlampau pada sistem yang telah membesarkan dan jadikan mereka sebagai pemimpin tersebut. Jangan kaget jika di PT MSS, para pemimpin yang sudah berstatus tinggi sekalipun, sudah bergabung lama sekalipun, tetap bisa dijatuhi hukuman atas pengkhianatannya tersebut, mulai dari skorsing, pemblokiran rekening, hingga penghapusan keanggotaan dari sistem.

Yang lebih menyedihkan, kualitas para pemimpin yang menyalah tersebut jauh lebih buruk dari para anggotanya, lebih buruk dari orang-orang yang dipimpinnya. Justru banyak anggota yang belum berstatus pemimpin, belum mengenyam pendidikan yang layak untuk dibebani tanggung jawab kepemimpinan, nyatanya telah menunjukkan bakat dan kemampuan memimpin yang jauh lebih besar daripada para pemimpinnya sendiri. Benar-benar intan bersalut lumpur, manakala para pemimpinnya--yang menyalah itu--ternyata tak lebih emas sepuhan belaka. Acapkali mata kita hanya tertuju pada apa yang di atas, kepemimpinan semu, hingga kita alpa akan besarnya potensi yang ada di bawah. Melulu terpaku pada aturan standar akan syarat kepemimpinan secara administratif sementara secara hakikat, banyak insan yang memiliki karakter dan kualitas kepemimpinan yang luar biasa. Pada akhirnya memang alam akan menyeleksi, namun menurutku kita berkejaran dengan waktu, hingga jikalau tak lekas diorbitkan, bisa saja kualitas kepemimpinan yang seharusnya mencuat itu kembali meredup, baik intan bersalut lumpur sebagaimana kukatakan di atas, yang kian lama kian tebal dan pekat lumpurnya hingga kita akan lebih sulit dan lebih lama membersihkannya untuk menikmati kilaunya. Janganlah sampai orang-orang yang sejatinya mampu memimpin bangsa dan negara ini, mereka yang sebenarnya mampu membawa perubahan, kemaslahatan dan kesejahteraan bagi segenap rakyat harus berakhir di trotoar jalan, manakala mereka yang jahanam dan pengkhianat naik ke tampuk.

Pemimpin itu dilahirkan, bukan diciptakan. Kalaupun sistem berhasil membentuk mereka menjadi pemimpin, itu adalah karena mereka memang telah membawa kepemimpinan itu dalam darah. Sistem hanya memoles mereka agar kian berkilau. Percayalah.

******

No comments:

Post a Comment