Basa-Basi Yang Semoga Saja Tak Terlalu Basi

Selamat datang di Ekuilibrium Dua Kutub, blog keempat Alfa Lubis. Blog ini merupakan kumpulan tulisan dari apa yang kualami, kurasakan, atau hal-hal yang menarikku untuk menuangkannya dalam sebuah tulisan. Ini blog, tidak kurang tidak lebih. Jika Anda tertarik untuk berkomentar atau merespon, aku akan sangat menghargai jika Anda hadir dengan identitas yang jelas bukan cuma anonim. Terima kasih telah meluangkan waktu Anda membaca blog ini, semoga Anda ingat jalan pulang.

Tuesday, September 18, 2012

320. INI BUKAN SEKEDAR SOAL SELANGKANGAN, KAMERAD...



Inginkah Anda menikah?

Kalau jawaban Anda adalah "ya", mari kita berjabat tangan, sebab aku juga. Syukurlah di tengah menggilanya zaman yang mengagungkan kebebasan, kepraktisan, hak asasi monyet, eh, maksudku hak asasi manusia, dan lain-lain ideologi gila yang perlahan merasuk, masih kita cukup kolot, terbelakang, dan kuno untuk tak takluk pada ideologi-ideologi tersebut melainkan saja memilih sebuah konsep klasik: pernikahan.

Aku 100% menginginkan pernikahan. Walaupun memang, kalau melihat kasus-kasus yang terjadi dalam rumah tangga orang lain--tanpa harus berasosiasi KDRT, niat tersebut bisa melorot drastis hingga tinggal 50%. Entahlah, barangkali untuk perkara itu aku kurang kuat mental hingga melihat dinamika rumah tangga orang lain, yang namanya saja dinamika tentulah tak senantiasa indah, dapat membuat aku hilang gairah untuk menikah. Padahal belum tentu dinamika semacam itu akan kualami pula. Bisa saja rumah tanggaku kelak akan lebih indah dan manis dari mereka. Atau, bisa saja lebih parah. Nah sayangnya kemungkinan kedua itu yang lebih menghantui. Biasalah manusia, lihat jeleknya dahulu.

Selalunya aku berusaha melihat sebuah rumah tangga dari sisi positifnya saja. Melihat suami yang menafkahi keluarganya, istri yang berbakti, anak-anak yang penurut, sungguh membesarkan hatiku. Hanya saja, apa lacur, mataku terlampau tajam untuk lantas dapat melihat sisi lain dari sebuah rumah tangga, sisi kelam yang bagaimanapun coba ditutupi oleh para anggota keluarga tersebut namun acapkali ternampak olehku jua. Seindah apapun drama itu mereka coba kemas dan mainkan, tetap saja ada sudut-sudut tersembunyi tempat penyimpangan digelar mampu kutelusuri dan apa yang kusaksikan di sana kerap meruntuhkan hatiku. Membuat aku goyah dan untuk seketika itu juga niat berumah tangga menguap habis dari diriku.

Sejak kecil, aku di atas rata-rata. Aku punya sesuatu yang tak biasa. Perasaanku amat sensitif akan perubahan, mana benar-mana salah, serta rasa keadilan yang cukup tinggi. Tanpa harus itu semua menjadikanku banci yang termehek-mehek, aku tumbuh dalam lingkungan yang walaupun secara kasat mata tak lebih lingkungan kanak-kanak jua, namun sejatinya itu mendewasakan aku. Kalau kupikir-pikir, agaknya aku lebih cepat berpikir tua daripada kebanyakan rekanku. Lagipula, lidahku berbisa benar. Sekali patuk, mampu memberi rasa aman dan nyaman, mampu memotivasi, sekaligus menghibur sebuah kaum: wanita. Entah kenapa, kebanyakan rekan wanitaku mulai dari zaman SMP dahulu senang benar bertukar-pikiran denganku. Curhat. Tanya pendapat. Diskusi. Sayangnya, sialnya, naasnya, pompuan-pompuan itu tak pula punya setitik niat untuk lantas menjadikanku kekasih. Bukan karena mereka kerap minta pendapatku maka otomatis aku akan tampak menggairahkan di mata mereka, hingga pantas dipacari. Aku sendiri tak begitu ambil pusing atau perhitungan masalah itu. Prinsipku: bantu saja semampunya. Maka senanglah mereka karena mendapat konsultasi gratis tanpa harus terikat hubungan asmara yang belum tentu mereka kehendaki. Dalam waktu tak berapa lama--tanpa aklamasi--akupun menjadi seorang konsultan. Konsultan Derita Wanita. Gratis. Bagian gratis ini memang bikin aku mengusap dada sendiri, apa boleh buat.

Ketika SMA hingga kuliah pun, predikat itu masih kusandang. Bahkan hingga kini. Entah itu tuah, berkah, atau musibah. Seiring perkembangan pola pikir dan mentalitasku pun, "klien" makin variatif. Namun, tema kasusnya tetap itu-itu juga: konflik pria-wanita, prahara rumah tangga. Di saat lidahku mampu lesatkan berbagai solusi untuk hadapi kemelut, sesungguhnya jauh di dasar hatiku aku cemas hal serupa akan kualami pula kelak dalam rumah tanggaku. Benar-benar sebuah ironi tanpa air mata tatkala aku membantu menyelesaikan masalah orang lain namun aku sendiri bahkan belum berhadap masalah itu. Entah hebat entah tolol. Tersibak semua tabir itu, menguar segala kebusukan itu. Bahwa rumah tangga yang kusangka harmonis pun, orang-orang yang kusangka baik pun, ternyata menyimpan sesuatu. Barangkali pantas kukatakan "setiap rumah tangga menyimpan kisah gelapnya sendiri". Dan kadangkala, benar-benar mengejutkan untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.

Dengan segala pertimbangan, siapkah aku untuk menikah?

Syukurlah belakangan ini aku mulai praktis. Siap tak siap, harus siap. Pernikahan adalah sebuah fase dengan segala dinamikanya. Tak mungkin mengharap yang indah-indah saja. Lagipula aku kan sudah dewasa, sudah selayaknya memimpin walaupun dalam ruang lingkup yang paling kecil. Bagaimana mungkin aku jadi pemimpin besar kalau memimpin yang kecil saja tak bisa? Mubazir rasanya kalau bakal anakku melulu berserak-serak di kamar mandi atau terpancut-pancut di balik kancut. Padahal barangkali kalau dikawinkan dengan sel telur yang tepat kelak ke depannya bisa jadi orang hebat. Setidak-tidaknya, itu harapanku.

Lantas mengapa belum menikah juga?

Menjawab pertanyaan ini benar-benar mudah: aku belum punya uang. Dan aku tak mau dengar argumen "nikah dulu, duit bisa menyusul" atau semacamnya. Sepenuhnya aku percaya bahwa pernikahan dan anak akan mampu membuka pintu rezeki, sebagaimana aku percaya bahwa dalam setiap Rupiah yang diperoleh seorang suami terdapat rezeki istri dan rezeki anak. Masalahnya: untuk menyelenggarakan pernikahan itu sendiri--dan hidup berumah tangga setelahnya, aku belum mampu. Memangnya aku harus bagaimana, mengagunkan SHM milik ayahku ke bank untuk biaya nikah, atau pinjam uang ke rentenir--dengan risiko istriku jadi tebusan, atau malah merampok toko emas buat cincin nikah? Aku tahu bahwa pernikahan itu unik: makin dirancang-rancang dan makin direncanakan malah makin sulit terlaksana, justru pada kebanyakan kasus, yang berani menyegerakan malah mendapat keberkahan yang besar. Tapi istrinya tipe yang bagaimana dulu?

Tabiat zaman memengaruhi tabiat manusia yang hidup di dalamnya. Termasuk wanita. Zaman sekarang, berapa banyak kiranya wanita yang mau diajak bersusah-susah? Kebanyakan cenderung mau praktis dan ekonomis. Zaman sekarang rupanya wanita tak lagi perlu malu untuk mengakui bahwa dirinya materialistis, hendak dapat suami yang mapan. Mencari wanita yang mau diajak bersakit-sakit atas nama cinta itu sama susahnya dengan cari intan di tumpukan tahi kerbau. Itupun kalau ada, kalau tak ada, alamat intan tak dapat, tangan sudah berlumur tahi. Padahal aku ingin pernikahan itu cukup sekali saja sampai maut memisah. Kalau sudah disyaratkan di awal "harus mapan dulu baru boleh nikah", aduh, rasanya bak orang termiskin di dunia saja. Mau nikah saja susah. Padahal yang di bawah ini sudah meronta-ronta terus pingin kenalan dengan wanita. Bosan dia, melulu kubuai dengan tanganku. Tapi agaknya harus ia bersabar dan merengek lebih lama lagi karena mencari wanita bakal pendamping hidup tak semudah yang kuinginkan.

Bertentangan dengan dorongan hasrat purba di bawah perutku, aku justru mengharapkan sesuatu yang lebih bernilai dan bermakna daripada sekedar seks. Menurutku seks itu toh hanya bumbu penyedap saja karena tanpa kehadiran selangkangan wanita pun, aku bisa memuaskan diriku sendiri. Tapi ada banyak hal yang tak bisa kulakukan hanya dengan melancap kejantanan sendiri. Kehadiran anak, misalnya. Aku memang sangat mendambakan punya anak--tentunya dari isteri yang sah. Kadang bayangan hendak punya anak itu demikian nyata sampai aku seolah bisa melihatnya mewujud nyata bahkan kadang-kadang sampai seolah aku bisa mencium bau ompolnya, warna dan tekstur tahinya, air liur yang bergantungan di bibirnya, pula aroma bayi yang menggemaskan sehabis mandi dan diolesi minyak telon. Berlawanan dengan pola pikir sebagian orang yang menganggap kehadiran anak merepotkan, aku justru mau punya anak yang banyak, enam, misalnya. Konsep KB itu omong-kosong, menurutku, karena kembali lagi, menurutku rezeki anak itu Tuhan yang atur, bukan BKKBN. Mudah-mudahan saja istriku tak keberatan sering-sering hamil. Biar bisa lekas bikin tim futsal.

Sebagaimana menjadi harapan kedua orang tuaku, akupun memiliki harapan yang sama untuk sebuah pernikahan: untuk ketenangan. Menikah itu untuk menenangkan diri. Untuk mendinginkan gelegak darah lajang. Untuk belajar memimpin. Untuk belajar dinamika berumah tangga. Untuk jadi imam. Sekaligus menjadi guru. Terlampau mulia tujuan pernikahan itu menurutku untuk lantas diperkerdil dengan orientasi-nikmat-sesaat seperti sensasi memecah perawan istri atau merasakan hangat dan ketatnya jepitan kewanitaan seseorang yang belum pernah beranak. Oh Tuhan, sampai di situ sajakah kelelakian mereka menemukan implementasinya? Susah-susah cari perawan, bahkan menjadikan keperawanan sebagai sebuah syarat mutlak pernikahan, lantas kalau perawannya sudah pecah, bagaimana selanjutnya? Cerai, nikah lagi? Celakanya, bayangan akan nikmatnya memecah perawan itu toh masih menjadi prioritas utama sebagian besar laki-laki. Dan lebih brengsek lagi, lelaki yang sudah tak perjaka pun maunya tetap dapat istri perawan. Ibaratnya: "aku tukang main perempuan, namun aku tetap mau perawan untuk jadi istriku." Ya, ya, ya. Karena dikendalikan oleh bagian bawahnya, tak heran laki-laki semacam ini isi benaknya dengan isi kejantanannya tak jauh beda. Sama-sama berlendir.

Pernikahan adalah sebuah praktik. Maka teori tak begitu berguna. Pernikahan itu unik, aneh, ajaib, misterius. Kalaulah ada mata kuliah Teori Pernikahan I sampai dengan VI dengan total bobot 20 SKS, kuyakin tetap saja itu tak benar-benar bisa diamalkan. Pernikahan membutuhkan sense tersendiri yang kerapkali tak bisa distandarisasi dalam sebuah silabus. Katakan saja tujuan utama pernikahan adalah agar "bahagia dunia-akhirat", bahagia itu sendiri jelas-jelas berbeda standar. Dan memangnya siapa yang bisa jamin kebahagiaan di akhirat? Bau akhirat itu saja kita tak pernah cium. Karenanya, dituntut problem-solving instan dalam hal menyikapi masalah yang hadir mewarnai rumah tangga. Kalau kulihat-lihat, justru orang-orang yang tak terlampau pintar dan tak banyak teori lebih bisa bertahan menghadapi dinamika rumah tangga, bisa lebih bahagia dibanding mereka yang mengaku banyak tahu padahal ternyata tak tahu apa-apa sama sekali. Satu keluarga ibarat satu buku yang jumlah penulisnya sama dengan jumlah anggota keluarga itu sendiri, karenanya masing-masing keluarga itu tipikal, tak mungkin sama satu dengan lain. Maka, penyelesaian masalahnya pun tentu tak bisa identik. Tergantung bagaimana sang pemimpin mampu memimpin ke arah mana hendaknya keluarganya tersebut. Sentuhan yang berbeda akan memberikan hasil berbeda. Karena kita manusia, sungguh kita kaya warna. Atas pemikiran itu sajalah maka aku masih menyimpan hasrat menikah di sebuah tempat di hatiku yang suatu waktu kelak akan kubuka dan kukabarkan kepada dunia.

Pernikahan itu indah. Lebih dari sekedar selangkangan, Kamerad.

******

No comments:

Post a Comment